5 Media Sosial yang Tak Jelas Hidup Matinya

DuniaTeknologi.Info – Media sosial sudah lama menjadi bagian dari kehidupan online masyarakat. Pengguna internet telah menghadapi beragam jenis media sosial yang berbeda dan memiliki ciri khas masing-masing. Akan tetapi, tidak semua media sosial bertahan lama dalam melayani hubungan pertemanan pengguna. Ditinggal beralih ke media sosial lain karena bebagai alasan, inilah 5 media sosial yang tak jelas hidup matinya.

1. Friendster
Friendster mengalami masa kejayaan pada awal abad milenium di bawah penemunya, Jonathan Abrams. Programmer ini sukses membawa Friendster menjadi media sosial populer dengan cepat pada tahun 2002. Diperkirakan pengguna media sosial ini mencapai 115 juta orang hingga 2008. Kelebihan media sosial ini adalah kesempatan yang diberikan kepada pengguna untuk melakukan personalisasi akun dan saling mengirim testimoni.
Karena popularitasnya, Indonesia sempat memiliki versi lain Friendster yaitu Temanster yang juga tak bertahan lama. Facebook yang baru saja memperkenalkan diri, dengan cepat merebut perhatian pengguna internet di seluruh dunia. Akibatnya media sosial ini terpuruk hingga memaksa pemiliknya mendesain ulang dengan bantuan pengguna di Asia Tenggara pada tahun 2009. Akhirnya pada tahun 2011, media sosial ini benar-benar ditinggalkan, kemudian beralih menjadi situs permainan.

2. MySpace
MySpace berada sejajar dengan Friendster di era 2000-an sebagai jejaring sosial yang digandrungi anak muda. Platform ini lahir sebagai wadah bermedia sosial bagi para penikmat musik. Tak hanya komunikasi antarpenggemar, MySpace juga menjadi sarana berhubung dengan musisi idola. Pengguna aktif MySpace tercatat mencapai 75,9 juta orang per bulan. Tetapi penggunanya terus berkurang karena pamor yang menurun. Hingga pada tahun 2011, MySpace diambil alih oleh Viant dengan nilai sekitar Rp471 miliar.

3. Foursquare
Sekitar tahun 2009, Foursquare mengalami masa kejayaan di Indonesia dengan ciri khasnya sebagai platform untuk berbagi lokasi dengan pengguna internet lain. Layanan ini pernah menjadi sarana promosi untuk mengenalkan tempat-tempat komersial strategis, seperti restoran, kafe, dan toko. Sekalipun masih bertahan, pengguna Foursquare terus mengalami penurunan. Pada pertengahan 2014, Foursquare meluncurkan platform turunannya yaitu Swarm.

4. Plurk
Media sosial dengan konsep microblogging ini meraih popularitas di Indonesia sekitar tahun 2009. Hampir mirip dengan Twitter, Plurk menyediakan tempat untuk menulis postingan hingga panjang maksimum 140 karakter. Jejaring sosial ini mendapat sambutan yang baik di Indonesia, sampai-sampai pada tahun 2013, mereka merilis Plurk Indonesia untuk pengguna dari tanah air. Meski popularitasnya telah meredup, Plurk masih memiliki penggemarnya sendiri.

5. Koprol
Sebagai salah satu negara dengan pengguna jejaring sosial terbesar di dunia, Indonesia juga tak kalah dalam hal menghadirkan platform media sosial. Koprol adalah satu di antaranya. Media sosial ini dapat memberitakan lokasi kepada sesama pengguna dan menghubungkan dengan pengguna yang berada di lokasi yang sama. Jejaring sosial yang dikembangkan oleh Satya Witoelar, Daniel Armanto, dan Fajar Budi Prasetyo ini sempat dilirik oleh perusahaan teknologi asing. Yahoo kemudian menjadi perusahaan yang mengakuisisi Koprol pada tahun 2010. Sayangnya, Yahoo kembali menarik dukungannya pada Agustus 2012, hingga akhirnya Koprol pun tak lagi terdengar kabarnya.

Sama seperti bisnis yang lain, media sosial juga mengalami fluktuasi dalam perkembangannya. Ada yang terus tumbuh, ada pula media sosial yang tak jelas hidup matinya karena tergerus teknologi, selera pengguna, dan kurang berhasilnya inovasi yang dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *