Mengintip Jenis Drone Tempur Buatan Indonesia

DuniaTeknologi.Info – Akan menarik tentunya, membahas prestasi  anak negeri untuk menciptakan rasa bangga terhadap kecintaan pada Indonesia. Dan salah satu prestasi yang menarik dari anak negeri adalah keberhasilan mereka menciptakan drone tempur. Seperti apa drone tempur buatan Indonesia? Berikut ulasannya.

Drone Tempur Buatan Indonesia yang Canggih

Indonesia tidak hanya sekali membuat drone, tetapi sudah beberapa kali. Tercatat ada beberapa drone yang sudah dibuat untuk berbagai keperluan. Di antaranya adalah drone yang diberi nama Wulung, Puna Alap-Alap, Elang Laut, serta beberapa drone lain yang terbilang canggih. Drone-drone tersebut memiliki penggunaan berbeda. Itu sebabnya, perlengkapan yang dimiliki masing-masing drone tersebut tidak sama.

AI 450, Drone Canggih dari Bandung

Salah satu startup dari Bandung, Aeroterrascan, merancang sekaligus membangun drone dengan nama AI 450. Misinya memang bukan sebagai alat tempur, melainkan untuk aktivitas penelitian dan semacamnya. Dengan kamera thermal yang dimiliki, drone ini bisa mengambil sampel gas yang keluar dari kawah gunung. Misi pertama yang sudah dijalankan AI 450 adalah deteksi kandungan gas pada kawah Gunung Agung.

Harga drone ini mencapai ratusan juta. Namun begitu, kegunaannya juga cukup banyak. AI 450 mampu memetakan lahan sekaligus menentukan berapa pohon yang tumbuh di atas lahan tersebut. Dengan kemampuan terbang hingga jarak 60 km, drone ini cukup mampu menangani tugas yang diembannya. Apalagi, durasi terbangnya mencapai 1 jam setengah.

Drone MALE Buatan PT Dirgantara Indonesia

MALE adalah singkatan dari Medium Altitude Long Endurance. Drone ini difungsikan dalam banyak hal terkait kemiliteran serta pertahanan. Tentu ini tidak mengherankan, sebab drone yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia ini mampu bertahan di udara hingga 24 jam penuh.

Sebagai drone tempur buatan Indonesia, Drone MALE dilengkapi dengan kamera pengintai. Tidak hanya itu, drone buatan dalam negeri ini juga dilengkapi dengan senjata untuk melakukan penyerangan musuh. Drone ini sekaligus menjadi kekuatan tambahan bagi sistem kemiliteran Indonesia.

Drone Lapan Surveillance Aircraft Hasil Kerjasama dengan Berlin

Lapan Surveillance Aircraft, atau sering disebut dengan Drone LSA, adalah drone hasil kerjasama Universitas Berlin dan Indonesia. Drone yang mampu terbang hingga 8 jam nonstop ini lebih digunakan untuk pemetaan dan deteksi bencana. Namun begitu, penggunaan drone untuk urusan pertahanan juga bisa dilakukan oleh drone LSA.

Tentu saja ini menarik jika mengingat durasi terbang dan jarak tempuh yang mencapai 1.300 km. Tambahan, Drone LSA juga mampu membawa beban hingga 160 kg. Dengan begitu, drone LSA bisa digunakan untuk alat angkut kebutuhan-kebutuhan tertentu di tengah bencana atau di medan pertempuran.

Drone Wulung untuk Keperluan Intelejen

Selain MALE, drone lain yang diciptakan dan dikembangkan oleh PT. Dirgantara Indonesia adalah Drone Wulung. Panjang badan drone ini mencapai 4,42 meter. Lebarnya sendiri mencapai hampir 1,5 meter. Secara bentuk, Drone Wulung terlihat ramping seperti capung.

Design bentuk drone tersebut dinilai lebih efektif mengingat tujuan awal diciptakannya Drone Wulung. Drone Wulung disiapkan untuk keperluan intelejen. Misi utamanya adalah sebagai mata-mata serta survei medan. Durasi terbangnya sekitar 2 hingga 3 jam saja, sedang kecepatannya mencapai 111 km perjam.

Drone-drone yang sudah dibahas di atas memang masih perlu dikembangkan lagi. Tentu saja, terkait dengan peningkatan durasi terbang, kecepatan, serta daya jelajahnya. Dengan begitu, drone-drone tempur buatan Indonesia ini lebih bisa difungsikan dalam segala keadaan. Termasuk untuk kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya urgent.

Meta deskripsi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *