KPPU Beri Saran, Indosat dan XL Sebaiknya Merger

DuniaTeknologi.info – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) baru-baru ini mengindikasi Perusahaan patungan antara XL Axiata dan Indosat Ooredoo yaitu  PT One Indonesia Synergy (OIS).memiliki kepemilikan silang atau cross-ownership oleh XL Axiata dan Indosat Ooredoo..
“Kendati belum dioperasikan, namun bila dilihat dari lisensi mereka, seharusnya mereka berkompetisi, bukan malah ‘jalan bersama’,” Kata Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf. Syarkawi menambahkan,“Kalau mereka apa-apa selalu bersama dan bersepakat, padahal kalau dilihat dari lisensi mereka harusnya berkompetisi, kenapa Indosat dan XL tidak merger saja?.”

Indosat Ooredoo & XL Axiata Membantah Terlibat Kartel

Sementara itu Direktur Utama Indosat Ooredoo Alexander Rusli telah membantah jika pihaknya terlibat dugaan kartel dengan XL Axiata terkait dengan pengaturan harga pada jasa layanan telekomunikasi untuk Pelanggan di Indonesia.
Vice President Corporate Communication XL Axiata Turina Farouk juga menyampaikan hal senada, ia menyampaikan bahwa OIS hingga saat ini baru di tahap penandatanganan kerja sama saja, dan belum ada pengaturan harga seperti yang didugakan. Alex menegaskan, “Silakan kalau mau melaporkan soal itu (kartel), kami (Indosat-XL) malah sedang perang harga. Masa sedang perang harga terlibat kartel.”

KPPU Mencium Persekongkolan Indosat & XL Goyang  Dominasi Telkomsel

Pada saat ini Selain mendalami kasus dugaan adanya kartel Indosat Ooredoo & XL Axiata, KPPU juga menyatakan telah mencium gelagat terjadi persekongkolan tarif alias price fixing antara Indosat Ooredoo & XL Axiata. Hal itu diduga karena tarif dari kedua operator tersebut mirip, hal ini mungkin untuk menggoyang dominasi Telkomsel, terutama Dominasi Telkomsel di luar Pulau Jawa.
Dimulai dari Indosat Ooredoo yang lebih dulu telah mengumbar tarif Rp 1 per detik (Rp 60 per menit) untuk panggilan off-net pertengahan 2016 yang lalu, kemudian dilanjutkan oleh XL Axiata yang mengeluarkan program yang hampir serupa, yaitu tarif Nelpon Rp 59 per menit.
Aksi pemasaran itu bahkan tetap dilakukan oleh Indosat Ooredoo dan XL Axiata meskipun penetapan tentang tarif baru interkoneksi pada saat ini sedang ditangguhkan. Dari situlah timbul kecurigaan KPPU akan adanya aroma persekongkolan penetapan tarif untuk menjatuhkan Telkomsel melalui kegiatan usaha yang tidak sehat.
Dari indikasi itu pula telah timbul kecurigaan KPPU akan adanya cross-ownership antara Indosat Ooredoo dan XL Axiata. Alih-alih melakukan kompetisi, kedua operator itu malah terkesan sangat dekat dan saling berkolaborasi, terutama dalam beberapa tahun belakangan ini.
“Ibaratnya mereka bangun satu rumah dengan dua kunci. Sulit untuk saling percaya satu sama lain di saat keduanya benar-benar berkompetisi, kecuali pemiliknya memang sama, cross-ownership,” ujar Syarkawi.
Terkait Dugaan kasus kepemilikan silang atau cross-ownership antara Indosat Ooredoo & XL Axiata sampai saat ini masih dalam proses pendalaman oleh KPPU. Proses awal selain dengan memanggil Perwakilan Indosat Ooredoo & XL Axiata, KPPU rencananya juga akan meminta keterangan langsung dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.
 
Dominasi Telkomsel berkat jaringan yang luas sampai kepelosok Indonesia memang beberapa tahun belakangan telah membuat operator lain kocar-kacir, berbagai inovasi yang dilakukan belum mampu menggeser dominasi dari Telkomsel, terutama dominasi pelanggan di Luar Pulau Jawa.
 
Meski sering muncul isu bahwa dominasi Telkomsel karena didorong oleh Telkom, namun jika doilihat dari kacamata Konsumen dominasi Telkomsel memanglah dikarenakan jaringan mereka yang luas dan stabil, sehingga Konsumen lebih memilih menggunakan layanan Telkomsel meski harga lebih tinggi dari yang ditawarkan operator lain Indosat Ooredoo & XL Axiata. [DT]
 

Baca Juga: Trik Meningkatkan Kecepatan Browser Firefox Di Komputer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *