Ketika Penyesalan Datang Terlambat

Sebagai seorang muslim, kita harus memiliki sifat untuk saling mengingatkan dalam perihal kebaikan. Kita sebagai seorang manusia, biasanya terlalu sibuk pada urusan pekerjaan yang isinya selalu tentang dunia saja.

Padahal ketika kita sudah mendekati hari-hari terakhir di dunia dan kematian akan segera datang menjemput, yang ada hanyalah penyesalan.

Kita harus hidup dalam keadaan yang seimbang. Urusan dunia dan akhirat, sebisa mungkin harus mendapatkan porsi yang cukup. 

Manusia harus seimbang terkait dengan apa-apa yang ada di dunia dan di akhirat. Termasuk terkait dengan kebutuhan tubuh, hati dan jiwa.

Jika tubuh melalui perut ini terkadang kita lapar dan membutuhkan makanan dan minuman bergizi, maka hati dan jiwa juga perlu asupan nutrisi yang sama.

Biasanya kita pilih-pilih untuk mengkonsumsi makanan yang sehat untuk tubuh kita. Tapi, terkadang kita mengabaikan hati dan jiwa kita.

Seharusnya hati dan jiwa juga diisi dengan nutrisi yang bergizi tinggi, agar hidup kita tenang. Makanan dan minuman bergizi tinggi itu ialah doa, dzikir, tilawah al qur’an dan hadir pada majelis ilmu. Melalui hal-hal seperti inilah kita bisa mendapatkan makanan bergizi bagi hati untuk meningkatkan kadar iman.

Orang-orang kafir dan munafik selalu mengingat-ingat pada hari ketika mereka dibangkitkan,  mereka selalu berandai-andai untuk senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar tetapi semuanya sudah terlambat.

Kemudian penyesalan pun datang kepada mereka yang mengabaikan keseimbangannya pada kehidupan dunia dan akhiratnya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’.” [QS. Al-Ahzab]: 66]

Tentu kita sebagai seorang muslim tidak ingin menyesal pada hari pembalasan. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengajak pembaca agar berusaha adil dalam menjalani kehidupan di dunia dan mempersiapkan bekalnya di akhirat.

Sebagai seorang muslim, kita harus memiliki Iman sebagai pondasi ketaatan yang kuat. Keimanan ini bagi seorang muslim bagaikan akar yang membawa sebatang pohon tumbuh tinggi nan besar.

Kemudian, Iman seorang muslim dengan Iman muslim lainnya bagaikan akar yang menguatkan satu sama lain pepohonan. Jadi, sebagai seorang muslim sebaiknya kita juga selalu memilih lingkungan yang baik. Karena sejatinya, diri kita ini adalah cerminan dari teman-teman kita. Apabila kita bersama dengan orang-orang yang beriman, maka kadar Iman kita akan senantiasa naik. 

Ada banyak kisah yang memilukan. Mungkin teman-teman pembaca pernah mendengar salah satunya. Saya akan coba ceritakan salah satunya.

Kisah ini tentang pemuda dan temannya yang sering membuang waktu luang dengan sia-sia. 

Ketika beberapa orang sibuk mengaji dan menuntut ilmu syar’i, pemuda ini dan temannya sibuk bermaksiat. Ada yang terbiasa mabuk-mabukan, main perempuan, berjudi dan segala macam keburukan lainnya.

(Baca Juga: 10+ Biografi Ustadz Sunnah Milenial)

Perlahan keburukan-keburukan yang selalu dilakukan oleh pemuda ini dan temannya membawanya kepada masalah yang serius. Minuman keras yang biasa mereka minum membawa kematian kepada salah satu pemuda tersebut.

Pemuda itu pun meninggal.

Setelah pemuda itu meninggal, ternyata teman-temannya berhijrah di jalan Allah. Mereka semua bertaubat dan mulai datang di majelis-majelis ilmu syar’i. Keburukan yang pernah mereka lakukan menjadi pukulan untuk pemuda yang lain, mereka semua ingat kepada kematian dan akan kekal di akhirat.

Pemuda yang meninggal pertama kali itu, melihat teman-temannya yang sudah bertaubat mendapatkan nikmat. Sementara dia sendirian mendapatkan siksaan yang pedih.

Pemuda itu bertanya kepada temannya,

“Bagaimana mungkin kalian mendapatkan nikmat, sementara aku di sini mendapatkan siksa? Sementara kalian pernah bermaksiat denganku?”

Lantas salah satu temannya di surga pun menjawab. Katanya,

“Ketika kamu meninggal, kami semua bertaubat. Kami berhijrah kembali ke jalan Allah. Saat itu, waktumu telah habis. Sementara kami ketakutan dan selalu mengingat-ingat bahwa waktu kami juga sedikit. Karena itu kami bertaubat.”

Kemudian jarak di antara pemuda itu dan temannya pun semakin menjauh. Tiadalah ada hal yang menguntungkan untuk pemuda yang pertama, melainkan hanyalah penyesalan yang datang terlambat.

Alangkah baiknya andaikan pemuda itu sebelum kematiannya datang bertaubat.

Demikian tulisan ini saya tulis. Semoga bisa membantu saudara yang hendak berhijrah dengan memulai bertaubat dan bersyukur kepada Allah

Ada banyak cara untuk bersyukur kepada Allah, salah satunya mengingat-ingat nikmat Allah yang paling besar yaitu nikmat Islam.

Saya berharap tulisan ini bermanfaat. Pembaca bisa membagikannya kepada saudara dan teman-teman di rumah.

Sumber : hijrahdulu.com

Recommended For You

About the Author: Andi Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

EnglishIndonesianJapaneseRussian
error: Content is protected !!